Model Persediaan Terintegrasi Pada Sistem Supply Chain Yang Melibatkan Pemasok, Pemanufaktur Dan Pembeli kami mempertimbangkan masalah rantai pasokan pemasok tunggal pembeli-tunggal-produsen tunggal di mana ada beberapa pengiriman untuk satu pesanan pembeli dan produsen memproduksi dalam bilangan bulat banyak jumlah pengiriman. Kami juga mempertimbangkan banyak ukuran pengadaan bahan baku yang dapat dipisahkan dari batch produksi. Dari contoh numerik kami menemukan bahwa nilai faktor konversi bahan dan frekuensi pengiriman mempengaruhi total biaya persediaan. Nilai faktor konversi bahan yang tinggi akan membuat total biaya persediaan pembeli meningkat dan total biaya persediaan produsen menurun. Frekuensi pengiriman yang tinggi akan membuat total biaya persediaan pembeli berkurang dan total biaya persediaan pabrik meningkat.
Persaingan bisnis saat ini tidak lagi terjadi antar perusahaan tetapi sudah melibatkan beberapa jaringan supply chain. Dengan telah berubahnya peta persaingan tersebut, perspektif bisnis saat ini tidak lagi tertuju pada perbaikan manajemen perusahaan tetapi sudah mengarah pada perbaikan manajemen supply chain. Salah satu hal yang cukup penting untuk diperhatikan adalah bagaimana pihak manajemen melakukan pengendalian persediaan pada jaringan supply chain secara efektif dan efisien.
Pengelolaan persediaan yang dilakukan secara tradisional (model EOQ dan EPQ) dianggap sudah tidak cocok jika ditinjau dalam perpektif supply chain. Oleh karenanya berkembang suatu model persediaan yang menentukan lot gabungan yang melibatkan beberapa pihak dalam supply chain. Goyal (1976) merupakan peneliti yang pertama kali mengembangkan model lot ekonomis gabungan (Joint Economic Lot Size). Dari penelitian yang telah dilakukan Goyal didapatkan hasil bahwa dengan lot ukuran ekonomis mampu mengurangi total biaya dalam supply chain secara signifikan. Selanjutnya model persediaan JELS ((Joint Economic Lot Size) yang awalnya dikembangkan oleh Goyal kemudian dikembangkan oleh beberapa peneliti.
Pujawan dan Kingsman (2002) mengembangkan model persediaan terintegrasi antara Supplier dengan pembeli. Model ini mengasumsikan bahwa pembeli menginginkan pengiriman dari produsen terjadi dalam n pengiriman untuk satu kali pemesanan yang dilakukan. Selanjutnya Model Persediaan Terintegrasi Pada Sistem Supply Chain pada jumlah batch produksi merupakan m kali dari ukuran pengiriman. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa dengan sinkronisasi waktu produksi dan pengiriman akan dapat mengurangi total biaya supply chain. Chan dan Kingsman (2005) mengembangkan model Pujawan dan Kingsman (2002) menjadi model persediaan terintegrasi antara manufaktur dengan multi pembeli. Solusi yang dihasilkan dapat mengurangi total biaya supply chain yang terjadi. Kelle, Al khateeb dan Miller (2003) menambahkan biaya kehilangan fleksibilitas pada pembeli sebagai akibat dari penentuan ukuran lot gabungan pada model Pujawan dan Kingsman (2002). Sampai saat ini model persediaan yang dikembangkan Nyoman dan Kingsman (2002) belum diintegrasikan dengan pembelian material. Oleh karenanya penelitian ini mencoba mengembangkan model tersebut dengan mengintegrasikannya dengan pembelian material.
