Evaluasi Fasilitas Kerja Dengan Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) di Depo Interior merupakan perusahaan interior yang menghasilkan mebel. Perusahaan ini belum dilengkapi dengan fasilitas dan metode kerja yang baik, sehingga pekerja sering mengalami keluhan rasa sakit dan lelah pada bagian-bagian tubuh tertentu. Dalam bekerja postur tubuh yang tidak baik dan pengulangan pekerjaan yang tinggi beresiko besar terhadap penyebab penyakit tulang belakang. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi postur kerja yang tidak baik bagi pekerja bagian finishing. Postur kerja diamati dengan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Pengamatan dilakukan pada 2 elemen pekerjaan yaitu pengamplasan dan penyemprotan. Langkah berikutnya : (1) tubuh dibagi menjadi dua bagian, yaitu kelompok A dan B, (2) pengelompokan skor postur bagian tubuh, (3) pengembangan grand skor dan daftar tindakan.
Pendahuluan Manusia sebagai faktor terpenting dalam suatu proses produksi, terutama perusahaan yang masih tradisional. Oleh karena itu pekerja sering mengalami keluhan rasa sakit dan lelah pada bagian-bagian tubuh tertentu. Dalam bekerja postur tubuh yang tidak baik dan pengulangan pekerjaan yang tinggi beresiko besar terhadap penyebab penyakit tulang belakang. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi postur kerja yang tidak baik bagi pekerja bagian finishing. Postur kerja diamati dengan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Dasar Teori Metode RULA RULA adalah metode yang dikembangkan dalam penelitian yang menginvestigasi dan menilai posisi kerja yang dilakukan oleh tubuh bagian atas (McAtamney, 1993). Metode RULA tidak membutuhkan alat khusus dalam penyelidikannya. Bagian tubuh yang mengalami penyelidikan adalah : leher, punggung, pergelangan tangan, lengan atas, lengan bawah, dan kaki. Penilaian dari metode ini menggunakan diagram dari postur tubuh dan tiga tabel penilaian untuk menyediakan evaluasi dari faktor resiko. Faktor resiko yang diselidiki adalah faktor yang dideskripsikan oleh McPhee sebagai external load factors, meliputi : Jumlah gerakan, Gerakan otot statis, Kekuatan, Postur kerja yang ditentukan oleh alat, Waktu kerja tanpa istirahat.
Tujuan Evaluasi Fasilitas Kerja Dengan Metode RULA, adalah : 1.Menyediakan metode untuk menyelidiki suatu populasi kerja segera, untuk mengungkap semua resiko yang mungkin terjadi berhubungan dengan tubuh bagian atas. 2.Mengidentifikasi kerja otot yang berhubungan dengan postur kerja, penggunaan kekuatan dan kerja yang berulang yang mungkin dapat mengakibatkan kelelahan otot. 3.Memberikan hasil yang dapat dihubungkan dengan penerapan ergonomi yang lebih luas termasuk faktor fisik, mental, epidami, lingkungan,organisasi dan juga membantu dalam memenuhi UK Guidelines yang digunakan untuk mencegah kelainan kerja tubuh bagian atas. Tahapan analisis dengan menggunakan metode RULA, adalah : Tahap 1 : Pengembangan metode untuk pencataan postur bekerja. Untuk menghasilkan suatu metode yang cepat digunakan, tubuh dibagi menjadi dua bagian yang membetuk dua kelompok, yaitu kelompok A dan B. Kelompok A meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran lengan. Kelompok B meliputi leher, badan dan kaki. Tahap 2 : Pengembangan sistem untuk pengelompokan skor postur bagian tubuh. Pengamatan yang dihasilkan dari postur kelompok A diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing portur. Kemudian skor tersebut dimasukkan dalam tabel 1 untuk mendapatkan skor A. Pengamatan yang dihasilkan dari postur kelompok B juga diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan kedalam tabel 2 untuk memperoleh skor B. Tahap 3 : Pengembangan grand score dan daftar tindakan. Setiap kombinasi skor C dan D diberikan rating yang disebut grand score (nilai 1 sampai 7). Nilai grand score diperoleh pada tabel 3, dimana nilai grand score antara 1 sampai 7 menunjukkan level tindakan (action level) dimana klasifikasinya sebagai berikut : 1.Action level 1 : suatu skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur ini bisa diterima jika tidak dipertahankan atau tidak berulang dalam periode lama. 2.Action level 2 : suatu skor 3 atau 4 menunjukkan perlu pemeriksanaan lanjutan dan juga diperlukan perubahan-perubahan. 3.Action level 3 : suatu skor 5 atau 6 menunjukkan pemeriksanaan dan perubahan perlu segera dilakukan. 4.Action level 4 : suatu skor 7 menunjukkan kondisi berbahaya, oleh karena itu pemeriksaan dan perubahan diperlukan dengan segera (saat itu juga)
