Rekomendasi Model Konsolidasi Distribusi Beras di Biro Logistik Indonesia (Divisi Regional Jawa Barat) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang mengatur dan memelihara pasokan beras guna memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Saat ini BULOG mendistribusikan beras dari gudang SubDivre satu ke gudang SubDivre lainnya (sistem point-to-point) sehingga ongkos kirim lebih tinggi karena frekuensi transportasi yang digunakan lebih tinggi dan total jarak tempuh lebih tinggi. Untuk mengurangi biaya distribusi, kami mengusulkan model konsolidasi berdasarkan topologi jaringan hub and spoke. Sistem hub and spoke dilakukan dengan menentukan titik mana yang menjadi hub dan titik mana yang menjadi ruji-ruji. Masalah dalam menentukan lokasi hub dan spoke dikenal dengan masalah lokasi hub. Dalam masalah ini, masalah median p-hub alokasi tunggal digunakan. Kami menggunakan AMPL untuk mendapatkan solusinya. Berbagai jumlah hub (5,6,7) diuji dan dievaluasi berdasarkan total biaya pengiriman. Jumlah hub yang memberikan total biaya pengiriman minimum adalah 7. Sistem pengiriman dengan model jaringan hub and spoke dapat menekan total biaya distribusi sebesar 13,94%.
Menurut Chopra dan Meindl (2016), rantai pasok merupakan proses bisnis yang terintegrasi dan terdiri dari semua bagian yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk memenuhi permintaan konsumen. Dalam rantai pasok, kita membutuhkan jaringan yang digunakan untuk mendistribusikan bahan baku dari pemasok ke konsumen. Jaringan ini dinilai sangat penting karena melalui jaringan ini suatu barang dapat diolah dari bahan baku dan didistribusikan melalui setiap jaringan yang ada agar dapat sampai ke tangan konsumen pada waktu yang tepat dan jumlah yang tepat.
Salah satu hal yang diperhatikan dalam jaringan rantai pasok adalah proses distribusinya (Pujawan, 2017). Proses distribusi adalah kunci utama profitabilitas dan mempengaruhi biaya seluruh rantai pasokan, sehingga biaya distribusi perlu dipertimbangkan (Chopra & Meindl, 2016). Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menekan biaya distribusi adalah dengan melakukan konsolidasi angkutan barang. Konsolidasi merupakan proses pengumpulan barang dari berbagai tempat yang akan dikemas menjadi satu kesatuan untuk dikirim ke tempat tertentu (Chopra & Meindl, 2016). Konsolidasi merupakan metode yang lebih efisien untuk merencanakan pengiriman dengan asal dan tujuan yang berbeda ketika pengiriman dilakukan dalam jarak yang jauh (Bektas, 2017).
Investasi dapat membangun titik-titik konsolidasi atau hub pada jaringan menggunakan antar-hub untuk mengirimkan barang dengan ukuran yang lebih besar dan seringkali lebih cepat daripada layanan pada hubungan antara simpul-simpul hub dan non-hub. Hub dapat berupa bandara, terminal peti kemas pelabuhan, pangkalan rel, terminal truk, dan platform antar moda. Karena skala ekonomi, pengiriman antar hub umumnya lebih hemat biaya daripada pengiriman langsung antar titik non-hub (Bektas, 2017).
Dalam literatur, sebagian besar konfigurasi sistem konsolidasi adalah jaringan hub dan spoke (Steadiesifi et al., 2014). Hub merupakan pusat distribusi, titik berkumpul aliran material, dan pusat pengiriman barang (Alumur & Kara, 2007). Sedangkan spoke merupakan titik-titik yang menjadi tujuan dan sumber hub. Konsep hub and spoke terletak pada sentralisasi. Hub digunakan untuk mengurangi jumlah busur transportasi dari titik asal ke node tujuan (Faharani et al., 2013). Melalui sistem hub and spoke ini efisiensi pendistribusian barang pengiriman dapat tercapai karena dapat mengurangi frekuensi pengiriman dan memperoleh keuntungan berupa economies of scale (Alumur & Kara, 2007). Menentukan lokasi hub dan node spoke yang dialokasikan ke hub dikenal sebagai masalah lokasi hub (Steadieseifi et al., 2014). Dalam studi Stanimirovic (2010), hub and spoke digunakan untuk merancang sistem telekomunikasi dan transportasi. Solusi dari masalah yang digunakan adalah dengan menggunakan metode heuristik yaitu algoritma genetika. Dalam penelitian Rostami dan Buchheim (2017), model hub and spoke dikembangkan untuk memasukkan ukuran kendaraan agar lebih realistis dengan mempertimbangkan prosedur relaksasi Lagrangian. Alumur dan Kara (2009) mempelajari masalah lokasi hub untuk aplikasi kargo di Turki. Model penutup hub alokasi tunggal meminimalkan biaya hub dan hubungan hub. Model diselesaikan menggunakan pemecah pengoptimalan CPLEX. Ishfaq dan Sox (2010) mempelajari masalah lokasi hub dalam logistik antar moda di AS yang menggabungkan tiga moda transportasi berbeda (jalan raya, kereta api, dan udara) menggunakan jaringan hub. Logistik antar moda yang diusulkan dapat mengurangi biaya transportasi. Ghafari-Nasab dkk. (2015) mempelajari hub dan berbicara untuk penyedia layanan logistik pihak ketiga. Mereka mengusulkan model pemrograman non-linier bilangan bulat campuran dan linierisasi model menggunakan pendekatan langkah demi langkah dan pendekatan numerik. Konfigurasi jaringan hub dan spoke dapat mengurangi biaya yang cukup besar dibandingkan dengan konfigurasi pengiriman langsung. Lee dan Moon (2014) mengembangkan dua model matematika, pemrograman linier bilangan bulat untuk konfigurasi jaringan dan operasi kendaraan dan pemrograman linier bilangan bulat campuran yang mempertimbangkan Pusat Pertukaran potensial untuk pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan data nyata yang dimodifikasi dari pos Korea. Jaringan logistik pos terdiri dari berbagai situs fungsional dengan hub hybrid dan struktur jari-jari. Mereka menyarankan model mereka untuk kemudahan mendesain jaringan yang optimal untuk fasilitas yang ada. Dalam Kartal et al. (2017) penelitian, model alokasi tunggal diterapkan pada jaringan real hub dengan menggunakan pendekatan heuristik berupa simulasi anil dan ant colony. Dalam penelitian Yang (2017), model alokasi tunggal dikembangkan dengan faktor diskon sebagai parameter baru yang tidak pasti. Pendekatan optimasi yang kuat digunakan untuk menangani parameter yang tidak pasti dan menggunakan interval ketidakpastian untuk mendeskripsikannya untuk menyelesaikannya. Pada Tabel 1, nasi merupakan makanan yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Beras merupakan salah satu komponen terpenting dalam kehidupan Bangsa Indonesia. BULOG (Badan Logistik) Divisi Wilayah (Divre) Jawa Barat merupakan badan usaha milik negara yang mengatur dan memelihara pasokan beras untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Indonesia. BULOG saat ini mendistribusikan berasnya dari satu gudang SubDivre ke gudang SubDivre lainnya (menggunakan konfigurasi point to point). Berdasarkan wawancara yang dilakukan di BULOG Regional Jawa Barat pada bagian Suplai dan Angkutan disebutkan bahwa permasalahan yang terjadi adalah masih tingginya frekuensi transportasi yang digunakan dan sistem pengiriman yang tidak efisien dimana pengiriman tidak dilakukan sekaligus. Menurut bagian Suplai dan Transportasi, jarak total akan lebih tinggi dengan sistem pengiriman beras saat ini, dan biaya distribusi akan lebih tinggi. Biaya distribusi yang dikeluarkan BULOG Divisi Regional Jawa Barat selama 3 tahun terakhir sebesar Rp 5.033.288.436. Proses pendistribusian tanpa konsolidasi (point-to-point system) membutuhkan biaya yang lebih signifikan karena total jarak yang ditempuh, dan jumlah kendaraan pengangkut yang dibutuhkan lebih banyak (Rodrigue, 2020). Masalah tersebut dapat diatasi dengan proses konsolidasi karena beras yang dikirim dari suatu daerah akan dikirim secara bersamaan ke tujuan yang sama untuk menghemat biaya transportasi.
Ada beberapa penelitian sebelumnya tentang distribusi beras di BULOG. Nurmalatya dan Vanany (2017) mengoptimalkan jumlah truk dan jadwal pengiriman beras RASKIN (harga khusus untuk masyarakat miskin) untuk mengatasi keterlambatan pengiriman (total waktu penyelesaian pengiriman melebihi target). Mereka menggunakan model pemrograman integer untuk mengoptimalkan masalah. Jumlah truk optimal adalah 11. Jumlah truk optimal lebih sedikit dari jumlah truk yang digunakan saat ini, yang berarti frekuensi pengiriman lebih tinggi dari sebelumnya. Namun studi ini tetap menghasilkan jadwal pengiriman yang optimal dan dapat menekan biaya investasi sekitar Rp 1.024.800.000-. Data diperoleh dari Sistem Informasi Geografis (SIG). Studi lain dilakukan oleh Nahar et al. (2017). Mereka menggunakan metode aproksimasi Improved Vogel untuk meminimalkan biaya distribusi beras di wilayah Sub-divre BULOG Medan. Mereka juga menyelesaikan masalah pendistribusian RASKIN. Model masalah transportasi yang digunakan bertujuan untuk meminimalkan biaya pengangkutan komoditas tertentu dari beberapa sumber ke beberapa tujuan. Algoritma yang diusulkan dapat menghemat biaya distribusi sebesar Rp 12.832.034,9. Penelitian sebelumnya mempelajari tingkat taktis (Nahar et al., 2017) dan operasional (Nurmalatya dan Vanavy, 2017). Mereka biasa mengarahkan topologi jaringan. Belum ada penelitian sebelumnya tentang distribusi beras BULOG yang menggunakan model konsolidasi distribusi atau menggunakan topologi jaringan hub dan spoke. Selain itu, belum ada penelitian sebelumnya yang menangani permasalahan pada level strategis seperti desain jaringan pada distribusi BULOG. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi konfigurasi jaringan transportasi hub and spoke kepada BULOG Divisi Regional Jawa Barat sebagai sistem konsolidasi dengan menentukan pemilihan lokasi yang tepat untuk hub sebagai pusat konsolidasi dan node yang ditetapkan ke hub tersebut di Wilayah Jawa Barat sebagai keputusan tingkat strategis. Kami menggunakan masalah median p-Hub alokasi tunggal sebagai rekomendasi model konsolidasi untuk BULOG. Tujuannya adalah untuk meminimalkan biaya pengiriman keseluruhan yang terkait dengan arus. Seperti yang kita menggunakan model alokasi tunggal, node permintaan hanya dapat ditetapkan ke satu hub, seperti yang disarankan dari wilayah BULOG Jawa Barat. Rekomendasi konfigurasi jaringan bertujuan untuk meminimalkan biaya yang dikeluarkan BULOG dalam proses distribusinya
