Six Sigma sebagai Produk Bed Series pada Metode Pengendalian dan Penjaminan mutu dilakukan di PT. XYZ dimana terdapat masalah cacat pada produk bed series sehingga diperlukan waktu tambahan untuk memperbaiki suatu produk. Salah satu cara untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas dalam suatu proses produksi adalah metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC. Hasil penghitungan rata-rata nilai DPMO dan Sigma Level didapatkan hasil 58558.56 dan 3.07 yang masih kurang baik karena masih jauh dari 6 sigma. Setelah itu dilakukan analisa terhadap akar permasalahan dari masalah produk cacat, kemudian dilakukan prioritas masalah dengan menggunakan (RPN) dimana nilai tertinggi berada pada stasiun kerja perakitan karena material yang telah habis terpakai di gudang memiliki RPN sebesar 405 sehingga itu menjadi prioritas utama untuk perbaikan. Dengan adanya standarisasi dan dokumentasi usulan perbaikan yang telah diberikan maka kemungkinan cacat pada Motor Lovina Bed 3 Elektrik akan berkurang.
Pengendalian kualitas secara umum dapat didefinisikan sebagai sistem untuk mempertahankan tingkat kualitas yang diinginkan, melalui umpan balik tentang karakteristik suatu produk atau layanan dan pelaksanaan tindakan korektif, jika terjadi penyimpangan karakteristik tersebut dari standar yang ditentukan (Mitra, 2008) .
Di perusahaan, pengendalian kualitas telah lama ditetapkan sebagai strategi manajemen yang penting untuk mencapai keunggulan kompetitif (Alghamdi & Bach, 2013). Six Sigma adalah salah satu inisiatif peningkatan kualitas terbaru yang telah mendapatkan popularitas dan penerimaan di banyak industri di seluruh dunia (He & Goh, 2015). Dikatakan bahwa penerapan
Six Sigma di perusahaan untuk mengelola kualitas suatu produk. Kualitas suatu produk merupakan determinan yang signifikan dari pilihan konsumen untuk produk industri (Rehman et al., 2017). Karenanya, mengembangkan produk berkualitas mengurangi cacat produksi dan meningkatkan kualitas produk perusahaan.
Six Sigma adalah metodologi terstruktur untuk meningkatkan proses yang difokuskan pada pengurangan variasi proses (varians proses) sekaligus mengurangi cacat (produk / layanan yang di luar spesifikasi) dengan menggunakan statistik dan alat pemecahan masalah secara intensif (Pepper & Spedding, 2010). Dalam aplikasinya memiliki tahapan DMAIC yaitu: define yaitu tahap penentuan masalah, tahap pengukuran adalah tahap pengukuran tingkat kecacatan, analisis tahap analisis penyebab masalah dalam proses, perbaikan tahap perbaikan. proses dan menghilangkan penyebab cacat, dan pengendalian yang merupakan tahap pengawasan kinerja proses dan memastikan cacat tidak muncul lagi (Hernadewita et al., 2019).
Six Sigma juga dapat digunakan sebagai ukuran kinerja sistem industri yang memungkinkan perusahaan melakukan perbaikan dengan strategi terobosan aktual dan dapat dilihat sebagai pengendalian proses industri yang berfokus pada pelanggan tentang kapabilitas proses (Chiehyeon et al., 2019). Semakin tinggi nilai sigma yang dicapai maka kinerja sistem industri akan semakin meningkat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian analisis meningkatkan kualitas produk cacat untuk mengidentifikasi penyebab cacat dan memberikan rekomendasi agar perusahaan dapat bersaing dengan kompetitor lainnya (Sachin & Dileepal, 2017).
Berbagai penelitian telah dilakukan dengan menggunakan Six Sigma untuk menghilangkan cacat dan meningkatkan proses pembuatan. Dalam dekade terakhir ini telah menjadi topik penting di sektor industri (Hernadewita et al., 2019)
Telah banyak penelitian tentang penerapan Six Sigma untuk meningkatkan kualitas produk, seperti penerapan Six Sigma dengan pendekatan diagram Pareto untuk menentukan prioritas jenis cacat yang akan diperbaiki. Pada saat yang sama, jumlah kerusakan merupakan satu-satunya parameter yang dipertimbangkan Hernadewita dkk. (2019). Sementara itu, Gupta et al. (2018) menerapkan metode Six Sigma untuk mengidentifikasi risiko di industri ban dan menggunakan metode VOC (Voice of Customer) berdasarkan data keluhan pelanggan untuk memprioritaskan jenis cacat. Telah ada penelitian Six Sigma sebagai Produk Bed Series yang dilakukan oleh Mansur et al. (2016) di mana metode Six Sigma dan FMEA telah diterapkan untuk mengurangi cacat dan limbah dalam produksi produk semak. Penelitian Six Sigma sebagai Produk Bed Series difokuskan pada jenis cacat dan metode FMEA sebagai alat prioritas untuk melakukan perbaikan berdasarkan nilai RPN tertinggi, dengan mempertimbangkan severity, kejadian, dan faktor pendeteksian. PT. Mega Andalan Kalasan adalah sebuah perusahaan manufaktur perlengkapan rumah sakit di Indonesia yang memproduksi berbagai produk bed series, aksesoris ruangan, dan perlengkapan rumah sakit lainnya. Masalah kualitas sering diverifikasi pada tahap pemeriksaan akhir, terutama produk seri tempat tidur, kemudian akan memperpanjang proses produksi untuk perbaikan. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan tersebut, perusahaan perlu melakukan pengendalian kualitas secara dini. Penelitian Six Sigma sebagai Produk Bed Series dilakukan pada Motor Listrik Lovina Bed 3
PT. Mega Andalan Kalasan dan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data produk cacat dari Mei 2019 sampai Oktober 2019.Pendekatan Six Sigma akan diterapkan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode DMAIC untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas produk, kemudian penyebab terjadinya cacat. produk bisa diselesaikan. Failure mode and effect analysis (FMEA) dilakukan untuk mengetahui penyebab utama produk cacat dengan penilaian risiko. Hasil penelitian ini kemudian menjadi urutan perbaikan yang lebih berdampak pada peningkatan kualitas produk produk bed series. Pengutamaannya difokuskan pada penyebab cacat pada setiap workstation kemudian dilakukan perbaikan pada level station, bukan pada level tipe cacat tertentu. Oleh karena itu, studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemahaman yang lebih dalam tentang peningkatan kualitas produk di industri. Selain itu, studi cover pada produk peralatan rumah sakit masih jarang dilakukan.
