Konteks Hirarki Sampah Makanan Identifikasi faktor determinan perilaku dianggap sebagai sarana penting untuk mengembangkan intervensi yang efektif terhadap pengelolaan sampah rumah tangga di Indonesia. Penelitian ini memperluas Teori Perilaku Berencana (TPB) dengan menggunakan konstruk sebagai berikut: niat, sikap, norma subyektif, kontrol perilaku persepsi, intervensi pemerintah, pengetahuan dan kesadaran lingkungan, serta perencanaan rumah tangga dan kebiasaan membeli; untuk memahami perilaku pengelolaan sampah rumah tangga dari sudut pandang ‘kurangi-pakai-daur ulang’. Model persamaan struktural (SEM) digunakan dalam penelitian ini dan hasilnya menunjukkan bahwa model tersebut menyumbang jumlah yang relatif besar (61,7%) dari varians niat, dengan sikap, norma subjektif, dan pengetahuan dan kesadaran lingkungan muncul sebagai prediktor yang signifikan. . Temuan di atas dapat digunakan oleh organisasi pemerintah dan non-pemerintah untuk merumuskan strategi pengelolaan limbah makanan di tingkat rumah tangga.
Limbah makanan adalah masalah serius yang semakin mendapat perhatian selama beberapa tahun terakhir di seluruh dunia karena kesadaran bahwa hal itu menyebabkan konsekuensi negatif yang signifikan pada berbagai aspek kehidupan. Limbah makanan menimbulkan masalah lingkungan seperti peningkatan emisi gas rumah kaca dan penggunaan air dan lahan yang tidak efisien; serta keamanan pangan dan masalah ekonomi (Canali et al., 2017; Conrad et al., 2018; Garnett, 2011; Graham-Rowe et al., 2014; Kummu et al., 2012; Lipinski et al., 2013; Nahman et al., 2012).
Diperkirakan bahwa di negara berkembang, sebagian besar kehilangan makanan terjadi pada tingkat pasca panen dan pemrosesan, sedangkan di negara industri, kerugian terjadi terutama di tingkat ritel dan konsumen (Gustavsson et al., 2011). Rumah tangga menyumbang lebih banyak timbulan limbah makanan di negara maju. Namun, isu terkini disoroti dalam The Agenda 2030
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 12.3, tentang ‘mengurangi separuh limbah makanan global per kapita di tingkat ritel dan konsumen’ pada tahun 2030 (Perserikatan Bangsa-Bangsa, 2015) menjadikan limbah makanan rumah tangga penting tidak hanya di negara maju tetapi juga di negara berkembang.
Menyusul tujuan tersebut, pemerintah Indonesia selanjutnya telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (SRT) dan Sampah Sejenis Rumah Tangga (SSRT). Selain itu, proporsi sampah terbesar di Indonesia juga merupakan sampah organik yang sebagian besar berasal dari rumah tangga (Amheka et al., 2015). Oleh karena itu, jika target SDG dan tujuan nasional terpenuhi, pengelolaan limbah makanan rumah tangga yang tepat di Indonesia harus ditangani dengan serius.
Beberapa peneliti mengusulkan hierarki limbah makanan untuk mendekati pengelolaan limbah makanan yang tepat (Eriksson et al., 2015; Garcia-Garcia et al., 2017; Papargyropoulou et al., 2014). Pendekatan ini mengacu pada hierarki sampah yang diterapkan pada konteks sampah makanan. Hierarki ini adalah alat yang berguna untuk menentukan peringkat alternatif pengelolaan limbah berdasarkan kinerja keberlanjutan dan telah dirujuk oleh pemerintah dan lembaga (Garcia-Garcia et al., 2017). Di sisi lain, untuk berhasil menerapkan hierarki sampah makanan dalam rumah tangga, perlu dipahami bagaimana
rumah tangga berperilaku terhadap solusi sehingga dorongan yang tepat dapat dirancang untuk menumbuhkan perilaku. Selain itu, perubahan perilaku manusia baru-baru ini menjadi bidang minat akademis dan sosial yang signifikan, dengan penelitian yang difokuskan pada limbah makanan (van der Werf et al., 2019).
Beberapa penelitian sebelumnya tentang perilaku sampah makanan sudah dilakukan, namun penelitian ini lebih banyak menyoroti dari segi perilaku timbulan sampah (Bravi et al., 2020; Fami et al., 2019; Kasavan et al., 2019; van der Werf et al., 2020; Fami et al., 2019; Kasavan et al., 2019; van der Werf et al. ., 2019). Beberapa peneliti yang fokus pada perilaku pengelolaan limbah makanan mempelajari pengurangan atau pencegahan limbah makanan (Graham-Rowe et al., 2015, Romani et al., 2018, Soorani & Ahmadvand, 2019). Sementara itu, penelitian yang mempertimbangkan perilaku pengelolaan pangan dari perspektif hirarki sampah pangan masih minim. Apalagi di Indonesia, kajian yang berfokus pada perilaku pemborosan pangan juga masih minim. Sebaliknya, kajian perilaku sangat penting dalam memahami kesediaan untuk melibatkan dan merumuskan kebijakan yang memicu perilaku pengelolaan limbah pangan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi dalam memajukan pemahaman tentang perilaku pengelolaan sampah makanan rumah tangga di Indonesia dalam perspektif hierarki sampah makanan. Penelitian ini akan mengidentifikasi pendorong perilaku pengelolaan sampah pada tingkat rumah tangga di Indonesia dengan memperluas teori perilaku terencana (Ajzen, 1991).
